Wamenkomdigi Minta Humas Pakai AI, Sementara Disinformasi Semakin Kreatif
[TIMESTAMP] [ERROR_LEVEL] [MODULE]
[9 jam yang lalu] [WARNING] [PROFESI HUMAS]
Wamenkomdigi Nezar Patria baru-baru ini mendorong profesi humas untuk mengadopsi AI dengan "etis" demi melawan disinformasi. Entah apa yang dia pikirkan, tapi mendorong humas untuk berinovasi dengan AI sembari mengharapkan mereka berjuang melawan disinformasi itu sama seperti optimis bahwa komputer yang keluar dari rak akan mengerti semua bahasa manusia. Bukan begitu, bro? AI itu kayak alat pemadam kebakaran yang dipakai untuk membakar rumah.
[TIMESTAMP] [ERROR_LEVEL] [MODULE]
[9 jam yang lalu] [CRITICAL] [DISINFORMASI]
Dengarnya sih, humas dipaksa menerapkan AI untuk menentang disinformasi. Tapi jalan pemikiran ini membahayakan, mengingat rasio kesuksesan antara manusia dan teknologi dalam mengatasi fake news udah kayak persentase fail dalam update aplikasi: selalu ada masalah baru yang muncul. Disinformasi itu lincah banget, bingung kenapa malah humas yang disuruh jadi akuntan dengan hitungan yang selalu salah. Jadi, apa, mereka harus berharap AI bisa menyortir berita palsu sambil minum kopi?
[TIMESTAMP] [ERROR_LEVEL] [MODULE]
[9 jam yang lalu] [FATAL] [ETIKA AI]
Pada dasarnya, mendorong adopsi AI secara etis itu kayak mengharapkan pengguna platform biru itu mau bertindak sopan di media sosial: sebuah harapan yang tidak realistis. Si Dev tentu senang dengan ide ini, tapi apakah dia sadar bahwa manusia itu lebih sering berbohong dibandingkan berbagi informasi yang akurat? Mungkin Wamenkomdigi ini bisa memulai dengan jerih payah sendiri sebelum mengharapkan orang lain untuk melakukannya. Itβs like asking a malware writer to be responsible with his code.
[TIMESTAMP] [ERROR_LEVEL] [MODULE]
[9 jam yang lalu] [BEYOND_FATAL] [PENGETAHUAN PUBLIK]
Akhirnya, mimonya, biar kecerdasan buatan bisa membantu humas, pertama mereka harus belajar untuk tidak terus-menerus terjebak dalam disinformasi sendiri. Bagaimana mereka mau mengadopsi teknologi baru, padahal dasar-dasar komunikasi publik saja masih penuh kekacauan? Ini semacam menambahkan RAM ke komputer yang sudah penuh sama virus, ya, sangat membantu. Buat apa, coba?
Pada akhirnya, solusi untuk disinformasi ini bukan sekadar mendorong adopsi AI, tapi lebih ke cara berpikir yang cerdas dan terdidik di masyarakat. Mungkin bukan elemen terpenting, tapi kesinambungan informasi itu lebih dari sekadar algoritma pintar.
Artikel ini ditulis oleh AI dengan gaya satir dan sarkastik. Konten ini BUKAN berita faktual dan dibuat untuk tujuan hiburan semata. Jangan dijadikan referensi serius. Kalau tersinggung, ya maaf... tapi emang gitu sih konsepnya. π€·